Kamis, 31 Maret 2011

"Tacit Knowledge"

Kekurangan rata-rata anak sekarang karena tak memiliki kemampuan yang tidak diberikan sekolah. Tak bisa kalau disuruh menjahit sendiri kancing baju yang copot, menyalakan kompor, atau menceplok telur. Tak berani menjadi berbeda (lateral thinking).

Banyak sekali ragam pengetahuan dan keterampilan di ranah yang tersembunyi di balik kecerdasan formal yang tidak dikembangkan di sekolah, padahal besar manfaatnya buat kehidupan. Tak cukup dengan memperluas wawasan di luar ilmu yang sekolah berikan. Anak harus melakoninya sendiri.

Tacit knowledge sesuatu yang sukar dipelajarkan. Namun, itulah nilai lebih bagi yang memilikinya. Anak di desa belajar berenang sendiri di sungai, tanpa baca buku, atau ada yang mengajarkan. Suku Dayak melepas anak mereka di hutan agar terampil membela diri dan cekatan berburu. Tanpa itu, hidup tak mulus dilakoni.

Anak kota tak bisa memasang seprai atau menyemir sepatu. Seni bergaul, bermasyarakat, dan segala yang berguna dalam membawa diri di luar rumah, pengetahuan yang tak tercatat, namun ada. Itulah juga yang tergolong tacit knowledge.

Tacit knowledge diperkenalkan oleh ilmuwan sekaligus filosof Michael Polanyi. Bentuk pengetahuan yang tersembunyi, tak ada di buku, tak mudah ditransformasikan, selain hanya terpetik dari pengalaman karena sudah melakoninya sendiri. Sejenis kemampuan memanah dan memancing kepiting, misalnya.

Tentu saja jenis pengetahuan ini sukar diukur dan dikodifikasikan. Ia bentuk-bentuk kebiasaan, keterampilan, dan kultur, yang melebihi dari yang bisa diungkapkan. Tak ada di buku teks bagaimana naik sepeda, selain pengalaman setelah melakoninya sendiri, contohnya.

Kini tacit knowledge dinilai penting karena di situ kekayaan human capital. Perusahaan maju di Jepang merekrut sumber daya manusia yang tinggi level tacit knowledge-nya (Ikujiro Nonataka dan Hirotaka Takeuchi, The Knowledge Creating Company, 1995).

Ternyata di situ potensi inovasi perusahaan. Anak yang tinggi level tacit knowledge-nya, cerdas kemampuan inovatifnya.

Untuk melahirkan anak yang bukan cuma cerdas pelajaran sekolah, metodologi pendidikan perlu ditukar. Seluruh ilmu mendidik mutakhir perlu diadopsi. Quantum learning dan lateral thinking dimanfaatkan. Termasuk neurolinguistic programming.

Masuk universitas terkemuka di AS, kini skor permintaan SAT di atas 2.000. Bush yunior yang diolok-olok skor SAT-nya konon hanya 1.400 ternyata jadi presiden juga. Opini publik AS menduga Presiden Bush tinggi level tacit knowledge-nya. Kelihatannya capres AS, Obama, juga memiliki kelebihan itu.

Sumber: Harian Kompas
Sumber data : http://duniaguru.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar